Pengabdian kepada Masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sebakul, Kabupaten Sarolangun
Pengabdian
kepada Masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sebakul, Kabupaten
Sarolangun
Oleh:
Asmatun Husna
NIM: 502220042
Prodi: Perbankan Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Email: asmatunhusna13@gmail.com
Membumikan
Ilmu, Merasakan Kehidupan Nyata
Kuliah
Kerja Nyata (KKN) adalah sebuah fase penting yang selalu dinanti sekaligus
menjadi tantangan besar bagi mahasiswa
Pengalaman
ini bukan hanya tentang memenuhi program kampus, tetapi juga tentang menemukan
arti sesungguhnya dari pengabdian, kebersamaan, dan keikhlasan dalam membangun
desa.
Proker
yang Membawa Warna
Selama
45 hari berada di Desa Sebakul, saya menyusun beberapa program kerja sederhana
namun bermakna. Program tersebut tidak bersifat muluk-muluk, tetapi lebih
kepada menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Di antaranya adalah:
- Mengajar di Madrasah
Saya
dipercaya untuk menjadi tenaga pendamping dalam kegiatan belajar mengajar di
madrasah setempat. Mengajar anak-anak madrasah memberikan pengalaman yang
sangat berharga. Antusiasme mereka dalam menerima ilmu mengajarkan saya arti
kesabaran, ketekunan, dan pentingnya peran seorang pendidik.
- Mengikuti Kegiatan di Kantor Desa
Kegiatan
ini membuka wawasan saya mengenai bagaimana pemerintahan desa berjalan. Mulai
dari rapat rutin, pengelolaan administrasi, hingga pelayanan masyarakat,
semuanya memberi pemahaman baru bahwa pemerintahan desa adalah garda terdepan
pembangunan.
- Mengajar di RA Nurusaadah
Selain
di madrasah, saya juga berkesempatan mengajar di RA Nurusaadah.
Menghadapi anak-anak usia dini tentu membutuhkan pendekatan berbeda. Tidak
hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga bermain, bercerita, dan memberikan
teladan sederhana yang bisa mereka tiru. Dari sinilah saya belajar bahwa
pendidikan usia dini adalah fondasi penting bagi pembentukan karakter.
Belajar
dari Desa
Hidup
di Desa Sebakul memberikan pengalaman yang tidak bisa didapatkan di kelas
manapun. Masyarakatnya ramah, hangat, dan terbuka menerima kehadiran orang
baru. Meski jauh dari hiruk pikuk kota, kehidupan mereka penuh dengan
nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan gotong royong yang begitu
kental. Saya merasakan bahwa di desa, rasa kekeluargaan lebih dominan, setiap
orang saling mengenal dan saling peduli terhadap kondisi tetangganya.
Selama
berada di Sebakul, saya sering diajak terlibat dalam berbagai kegiatan
masyarakat seperti acara keagamaan, gotong royong membersihkan lingkungan,
hingga diskusi santai di balai desa. Kegiatan-kegiatan sederhana itu ternyata
menyimpan banyak nilai yang dalam. Dari gotong royong, saya belajar arti kerja
sama tanpa pamrih; dari acara keagamaan, saya melihat bagaimana agama
benar-benar menjadi pedoman hidup sehari-hari; sementara dari diskusi santai,
saya memahami cara masyarakat memecahkan masalah dengan musyawarah dan
kebersamaan.
Pengalaman
tersebut membuat saya semakin sadar bahwa ilmu tidak hanya lahir dari buku atau
ruang kuliah, melainkan juga dari interaksi sosial dan kearifan lokal
masyarakat. Apa yang mereka praktikkan sehari-hari adalah bentuk nyata dari
teori yang sering kita pelajari di kampus, hanya saja dengan cara yang lebih
sederhana dan membumi. Desa Sebakul telah menjadi “kelas kehidupan” yang
mengajarkan saya arti toleransi, solidaritas, dan keikhlasan dalam hidup
bermasyarakat.
Refleksi:
Antara Teori dan Realita
Sebagai
mahasiswa Perbankan Syariah, tentu program KKN saya tidak langsung terkait
dengan mata kuliah perbankan. Namun justru di sinilah letak tantangannya:
bagaimana seorang mahasiswa bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.
Saya
belajar bahwa pengabdian bukan tentang jurusan apa yang kita ambil, tetapi
tentang manfaat apa yang bisa kita berikan. Ilmu perbankan syariah yang
saya pelajari tetap relevan, terutama dalam hal kedisiplinan, manajemen waktu,
dan etika kerja. Semua itu saya terapkan ketika mengajar dan berinteraksi
dengan perangkat desa maupun masyarakat.
Masyarakat
sebagai Guru Kehidupan
Banyak
pelajaran hidup yang saya dapatkan dari masyarakat Sebakul. Tentang bagaimana
mereka bertahan hidup dengan kesederhanaan, bagaimana mereka saling membantu
tanpa pamrih, dan bagaimana agama menjadi pusat kehidupan sehari-hari.
Hal-hal
kecil seperti berbagi makanan, saling menyapa, atau bekerja sama dalam kegiatan
desa membuat saya semakin yakin bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari
materi, melainkan dari kebersamaan dan keikhlasan.
Harapan
untuk Desa Sebakul
KKN
ini mungkin hanya berlangsung sebentar, tetapi saya berharap program sederhana
yang saya jalankan dapat memberikan manfaat jangka panjang, khususnya dalam
bidang pendidikan anak-anak
Harapan
lainnya adalah agar desa ini semakin berkembang, baik dari segi pendidikan,
ekonomi, maupun pembangunan sosial. Potensi masyarakat Sebakul sangat besar,
hanya perlu sentuhan kolaborasi dan pendampingan berkelanjutan.
Penutup:
Arti Sebuah Pengabdian
Kukerta
Mandiri 2025 di Desa Sebakul adalah perjalanan berharga dalam hidup saya. Saya
belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tugas mahasiswa,
melainkan sebuah panggilan kemanusiaan.
Melalui
program sederhana seperti mengajar, membantu perangkat desa, dan mendampingi
anak-anak RA Nurusaadah, saya merasakan betul makna “dari masyarakat, oleh
masyarakat, dan untuk masyarakat.”
Sebagai
mahasiswa, saya percaya bahwa pengabdian ini menjadi bekal berharga untuk masa
depan. Tidak hanya menambah pengalaman, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
moral, spiritual, dan sosial yang kelak akan bermanfaat dalam dunia kerja
maupun kehidupan pribadi.
Akhir
kata, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh
masyarakat Desa Sebakul, perangkat desa, para guru, anak-anak madrasah dan RA
Nurusaadah, serta semua pihak yang telah menerima dan mendukung saya selama
pelaksanaan Kukerta Mandiri. Semoga pengabdian kecil ini menjadi amal jariyah
dan bermanfaat untuk kita semua.
Referensi:
Ihsan Batubara, Aini
Fadilah Daulay, Resti Agustina, Melda Junita Nst, Nur Padilah, Cahyani Aulia
Fitri, Khodijah Nasution, & Siti Khairani. (2024). Peran Mahasiswa KKN
Dalam Pengembangan Pendidikan Anak-Anak di Desa Pintu Padang. Jurnal
Informasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 104–114.
https://doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v2i1.771
Oktasari Putri, P.,
& Dwi Antari, E. (2025). BERSINERGI UNTUK DESA: MAHASISWA KKN UNIVERSITAS
COKROAMINOTO YOGYAKARTA DAN MASYARAKAT PADUKUHAN SINGOSAREN. GEMI JUNAL
PENELITIAN DAN PENGABDIAN, 04(02), 95–110.
Sonata, F., Hutagalung,
J., Erwansyah, K., Kusnasari, S., & Kustini, R. (2022). PERAN SERTA
KEGIATAN MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) DALAM MENINGKATKAN KUALITAS
PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR. Journal of Character Education Society), 5(3),
580–590. https://doi.org/10.31764/jces.v3i1.9245
Komentar
Posting Komentar