Pengabdian kepada Masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sebakul, Kabupaten Sarolangun

Pengabdian kepada Masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sebakul, Kabupaten Sarolangun

Oleh: Asmatun Husna
NIM: 502220042
Prodi: Perbankan Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Email: asmatunhusna13@gmail.com


Membumikan Ilmu, Merasakan Kehidupan Nyata

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah sebuah fase penting yang selalu dinanti sekaligus menjadi tantangan besar bagi mahasiswa(Oktasari Putri & Dwi Antari, 2025). Bukan sekadar kewajiban akademik, KKN menjadi ruang nyata untuk menguji kemampuan, membaur dengan masyarakat, sekaligus mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan(Sonata et al., 2022). Pada tahun 2025, saya berkesempatan melaksanakan Kukerta Mandiri di Dusun Sebakul, Kecamatan Cerminan Gedang, Kabupaten Sarolangun.

Pengalaman ini bukan hanya tentang memenuhi program kampus, tetapi juga tentang menemukan arti sesungguhnya dari pengabdian, kebersamaan, dan keikhlasan dalam membangun desa.

Proker yang Membawa Warna

Selama 45 hari berada di Desa Sebakul, saya menyusun beberapa program kerja sederhana namun bermakna. Program tersebut tidak bersifat muluk-muluk, tetapi lebih kepada menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Di antaranya adalah:

  1. Mengajar di Madrasah

Saya dipercaya untuk menjadi tenaga pendamping dalam kegiatan belajar mengajar di madrasah setempat. Mengajar anak-anak madrasah memberikan pengalaman yang sangat berharga. Antusiasme mereka dalam menerima ilmu mengajarkan saya arti kesabaran, ketekunan, dan pentingnya peran seorang pendidik.

  1. Mengikuti Kegiatan di Kantor Desa

Kegiatan ini membuka wawasan saya mengenai bagaimana pemerintahan desa berjalan. Mulai dari rapat rutin, pengelolaan administrasi, hingga pelayanan masyarakat, semuanya memberi pemahaman baru bahwa pemerintahan desa adalah garda terdepan pembangunan.

  1. Mengajar di RA Nurusaadah

Selain di madrasah, saya juga berkesempatan mengajar di RA Nurusaadah. Menghadapi anak-anak usia dini tentu membutuhkan pendekatan berbeda. Tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga bermain, bercerita, dan memberikan teladan sederhana yang bisa mereka tiru. Dari sinilah saya belajar bahwa pendidikan usia dini adalah fondasi penting bagi pembentukan karakter.

Belajar dari Desa

Hidup di Desa Sebakul memberikan pengalaman yang tidak bisa didapatkan di kelas manapun. Masyarakatnya ramah, hangat, dan terbuka menerima kehadiran orang baru. Meski jauh dari hiruk pikuk kota, kehidupan mereka penuh dengan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan gotong royong yang begitu kental. Saya merasakan bahwa di desa, rasa kekeluargaan lebih dominan, setiap orang saling mengenal dan saling peduli terhadap kondisi tetangganya.

Selama berada di Sebakul, saya sering diajak terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti acara keagamaan, gotong royong membersihkan lingkungan, hingga diskusi santai di balai desa. Kegiatan-kegiatan sederhana itu ternyata menyimpan banyak nilai yang dalam. Dari gotong royong, saya belajar arti kerja sama tanpa pamrih; dari acara keagamaan, saya melihat bagaimana agama benar-benar menjadi pedoman hidup sehari-hari; sementara dari diskusi santai, saya memahami cara masyarakat memecahkan masalah dengan musyawarah dan kebersamaan.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin sadar bahwa ilmu tidak hanya lahir dari buku atau ruang kuliah, melainkan juga dari interaksi sosial dan kearifan lokal masyarakat. Apa yang mereka praktikkan sehari-hari adalah bentuk nyata dari teori yang sering kita pelajari di kampus, hanya saja dengan cara yang lebih sederhana dan membumi. Desa Sebakul telah menjadi “kelas kehidupan” yang mengajarkan saya arti toleransi, solidaritas, dan keikhlasan dalam hidup bermasyarakat.

Refleksi: Antara Teori dan Realita

Sebagai mahasiswa Perbankan Syariah, tentu program KKN saya tidak langsung terkait dengan mata kuliah perbankan. Namun justru di sinilah letak tantangannya: bagaimana seorang mahasiswa bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.

Saya belajar bahwa pengabdian bukan tentang jurusan apa yang kita ambil, tetapi tentang manfaat apa yang bisa kita berikan. Ilmu perbankan syariah yang saya pelajari tetap relevan, terutama dalam hal kedisiplinan, manajemen waktu, dan etika kerja. Semua itu saya terapkan ketika mengajar dan berinteraksi dengan perangkat desa maupun masyarakat.

Masyarakat sebagai Guru Kehidupan

Banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari masyarakat Sebakul. Tentang bagaimana mereka bertahan hidup dengan kesederhanaan, bagaimana mereka saling membantu tanpa pamrih, dan bagaimana agama menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Hal-hal kecil seperti berbagi makanan, saling menyapa, atau bekerja sama dalam kegiatan desa membuat saya semakin yakin bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari materi, melainkan dari kebersamaan dan keikhlasan.

Harapan untuk Desa Sebakul

KKN ini mungkin hanya berlangsung sebentar, tetapi saya berharap program sederhana yang saya jalankan dapat memberikan manfaat jangka panjang, khususnya dalam bidang pendidikan anak-anak(Ihsan Batubara et al., 2024). Saya juga berharap relasi baik dengan perangkat desa dan masyarakat bisa terus terjalin meski KKN sudah berakhir.

Harapan lainnya adalah agar desa ini semakin berkembang, baik dari segi pendidikan, ekonomi, maupun pembangunan sosial. Potensi masyarakat Sebakul sangat besar, hanya perlu sentuhan kolaborasi dan pendampingan berkelanjutan.

Penutup: Arti Sebuah Pengabdian

Kukerta Mandiri 2025 di Desa Sebakul adalah perjalanan berharga dalam hidup saya. Saya belajar bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tugas mahasiswa, melainkan sebuah panggilan kemanusiaan.

Melalui program sederhana seperti mengajar, membantu perangkat desa, dan mendampingi anak-anak RA Nurusaadah, saya merasakan betul makna “dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.”

Sebagai mahasiswa, saya percaya bahwa pengabdian ini menjadi bekal berharga untuk masa depan. Tidak hanya menambah pengalaman, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial yang kelak akan bermanfaat dalam dunia kerja maupun kehidupan pribadi.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Desa Sebakul, perangkat desa, para guru, anak-anak madrasah dan RA Nurusaadah, serta semua pihak yang telah menerima dan mendukung saya selama pelaksanaan Kukerta Mandiri. Semoga pengabdian kecil ini menjadi amal jariyah dan bermanfaat untuk kita semua.

Referensi:

Ihsan Batubara, Aini Fadilah Daulay, Resti Agustina, Melda Junita Nst, Nur Padilah, Cahyani Aulia Fitri, Khodijah Nasution, & Siti Khairani. (2024). Peran Mahasiswa KKN Dalam Pengembangan Pendidikan Anak-Anak di Desa Pintu Padang. Jurnal Informasi Pengabdian Masyarakat, 2(1), 104–114. https://doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v2i1.771

Oktasari Putri, P., & Dwi Antari, E. (2025). BERSINERGI UNTUK DESA: MAHASISWA KKN UNIVERSITAS COKROAMINOTO YOGYAKARTA DAN MASYARAKAT PADUKUHAN SINGOSAREN. GEMI JUNAL PENELITIAN DAN PENGABDIAN, 04(02), 95–110.

Sonata, F., Hutagalung, J., Erwansyah, K., Kusnasari, S., & Kustini, R. (2022). PERAN SERTA KEGIATAN MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR. Journal of Character Education Society), 5(3), 580–590. https://doi.org/10.31764/jces.v3i1.9245

 

Komentar